Puluhan Tahun, Satu Keluarga Di Bengkulu Utara Hanya Tinggal Dipondok Kebun

Potret Buram, Nasib Masyarakat Miskin Bengkulu Utara

BerandABengkulu.com, BENGKULU UTARA – Miris memang, dialami keluarga Mansari (47) warga desa Taba Tembilang Kecamatan Arga Makmur Bengkulu Utara. Bagaimana tidak, sudah lebih dari 20 tahun ia bersama istri dan empat orang anaknya hanya bisa menempati rumah pondok kebun, berukuran 3×5 meter yang berlokasi di perkebunan masyarakat. Kondisi ini, sangat berbanding terbalik, dengan gencarnya pembangunan serta pengentasan kemiskinan yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara. Dimana, masih ada masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal yang layak.

Kondisi keluarga Mansari yang luput dari perhatian pemerintah ini, lantaran hingga puluhan tahun, sekian banyak bantuan pemerintah yang katanya diperuntukkan untuk masyarakat miskin, serta tidak mampu dan juga banyaknya bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran, tidak pernah dinikmatinya. Yang lebih memilukan lagi, dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka pun masih kesusahan, apalagi untuk hidup layaknya masyarakat pada umumnya.

“Jangankan menerima bantuan mas, yang datang untuk mendata (Bantuan sosial,red) saja belum pernah ada. Sudah 20 tahun saya dan empat orang anak saya tinggal disini, tidak ada satupun bantuan pemerintah yang pernah kami nikmati, apalagi tempat tinggal layaknya masyarakat lain,” katanya dengan meneteskan air mata.

Lebih mirisnya lagi, yang membuat hatinya sedih, justru bantuan pemerintah yang seharusnya dinikmati orang-orang sepertinya, malah didapatkan oleh masyarakat yang jauh kehidupan taraf ekonominya diatasnya. Sementara dirinya, jangankan menikmati didata saja belum pernah dilakukan. Kendati demikian, ia berusaha tegar dan tidak memiliki rasa iri dengan orang lain, dan keempat anaknya tetap mengenyam pendidikan meski haru bersusah payah dalam mencukupi kebutuhan sekolah maupun sehari-hari.

“Kami meskipun tidak menikmati yang katanya bantuan pemerintah, kami tidak berkecil hati dan tetap mengedepankan pendidikan anak-anak semampu kami. Sejauh ini, kalau sekolah, anak-anak jalan kaki mas, dari jam 6 pagi sudah harus berangkat, karena rentang jarak dari dalam perkebunan tempat tinggal kami untuk mencapai jalan raya cukup jauh. Terlebih lagi, kami tidak memiliki kendaraan,” kenangnya.

Kondisi di malam hari, tanpa penerangan listrik hanya menggunakan lampu minyak

Jauh dari kata merdeka diusia kemerdekaan RI ini yang sudah puluhan tahun, namun keluarga Mansari ini, justru layaknya belum mengenyam kata merdeka. Karena selain keluhan belum mengenyam bantuan, ia dan keluarga juga belum pernah namanya menikmati terangnya lampu listrik ketika dimalam hari. Puluhan tahun, ia hanya tahu lampu dengan menggunakan minyak untuk penerangan dimalam hari.

“Kami juga ingin memiliki kehidupan layaknya masyarakat lain, karena saya sebagai orang tua tidak bisa berbuat banyak dan kasihan anak harus belajar setiap malam, hanya mengandalkan remangnya lampu minyak. Saya juga memiliki keinginan yang besar, untuk terus menyekolahkan anaknya, yang memiliki cita-cita ingin menjadi tentara. Semoga, dengan adanya bapak-bapak disini bisa membuka mata pemerintah melihat kondisi kami disini, dan pemerintah bisa mendengar suara kami, bahwa di tengah Kecamatan Kota masih ada keluarga yang luput dari perhatian, dan sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah,”demikian Mansari.

Laporan : Aris
Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial
LinkedIn
Share
Instagram
Telegram