Uncategorized

Sst, Ada Proyek Siluman Di Wilayah Kelurahan Kemumu

Petani Setempat, Sebut Kontraktor Tidak Beretika

BerandABengkulu.com, BENGKULU UTARA – Pada prinsipnya setiap kegiatan yang bersumber dari anggaran negara itu, wajib mencantumkan dilokasi pekerjaan papan informasi. Yang mana, papan informasi ini berfungsi untuk transparansi terhadap masyarakat atas kegiatan itu bersumber dari dana mana?, dan seperti apa informasi lainnya atas sebuah kegiatan pembangunan, terlebih untuk pertanian. Namun berbeda yang ada di wilayah Kelurahan Kemumu Kecamatan Arma Jaya Kabupaten Bengkulu Utara. Ada proyek perehaban DAM, yang diduga proyek siluman. Karena, tidak ada satupun dilokasi mencantumkan papan informasi apapun. Ironisnya lagi, pekerjaan proyek ini disebut-sebut oleh petani setempat, sangat tidak beretika, karena dinilai telah merugikan para petani, lantaran wilayah persawahannya mengalami kerusakan akibat proyek ini.

Pantauan awak media dilapangan, terlihat proyek yang dapat dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 1 KM ini dari jalan poros, yang bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ini, sama sekali tidak mencantumkan papan informasi. Sementara, material juga terkesan dibiarkan bertaburan menghalangi jalan rabat beton. Menariknya lagi, direksi kit yang digunakan oleh pihak pelaksana proyek ini, menggunakan pondok milik masyarakat yang digunakan tanpa seizin pemiliknya. Selain itu, proyek ini juga dinilai telah merusak pematang sawah milik masyarakat, yang digunakan untuk mengangkut hanya material pasir.

Suyatmin petani setempat yang dipekerjakan oleh pelaksana kontraktor ini, ketika dikonfirmasi dirinya tidak mengetahui siapa nama pelaksana pekerjaan proyek ini. Yang mana, dirinya hanya diminta membantu melaksanakan proyek ini, untuk memecah dan mengambil batu di seputaran area lokasi proyek. Karena, pihak pelaksana tidak mengadakan batu, dan memerintahkan dirinya untuk mengambil dan memecah batu yang ada di sekitar area lokasi.

“Saya tidak tahu nama pelaksana atau kontraktornya, saya hanya diminta mencari batu di sekitaran lokasi proyek ini, dan memecahnya. Saya sendiri hanya dibayar Rp. 125 ribu setiap kubik batu, yang bisa saya kumpulkan dari area ini. Sejauh ini, saya sudah mengumpulkan 8 kubik batu. Mengenai seperti apa dan bagaimana pekerjaan proyek ini, saya sendiri tidak tahu,” ujar Suyatmin yang ditaksir sudah berusia diatas 60 tahun tersebut.

Sementara itu, berbeda seperti yang disampaikan oleh Suryana yang merupakan petani dan pemilik lahan diarea persawahan tersebut. Kepada awak media, ia sangat menyesalkan ulah pihak kontraktor proyek ini, sudahlah menggunakan pondok milik keluarganya tanpa izin untuk dijadikan gudang tempat material semen dan alat bangunannya, juga tidak ada etika sama sekali menggunakan pematang persawahan yang dibuatnya menggunakan tenaga.

“Sangat tidak beretika mas kontraktornya ini, mas lihat sendiri pematang kami jadi rusak, akibat dilalui untuk para pekerjanya melansir material pasir dan semen ke lokasi pekerjaan. Hingga saat ini, pihak kontraktor tidak pernah pamit kepada saya. Jalan ini kan kami yang buat dengan tenaga, dan mereka tidak pamit, sama saja kami tidak dihargai oleh mereka. Sejauh ini, saya sangat ingin ketemu pelaksana atau kontraktornya, karena saya ingin mempertanyakan etikanya kepada saya. Sejatinya, orang itu datang kerumah orang mbok ya pamit, jangan hanya nyelonong saja. Lihat sendiri, dampaknya mas,” ujar Sudjana.

Selain itu, Suryana juga mempertanyakan cara kerja pembangunan DAM ini. Pasalnya, pembangunan ini terkesan aneh dan kekuatan pekerjaan ini sarat dipertanyakan. Karena, pekerjaan ini tidak seperti pada umumnya atau Standartnya membuat DAM. Yang mana, pihak pelaksana hanya menggunakan papan dan memasukkan batu dan adukan semen ke cetakan papan yang sudah dibuatnya. Sementara standarnya, ini kan mestinya pembangunannya semacam pondasi atau pelapis tebing.

“Saya ini juga tukang mas, jadi saya tahu seperti apa kontruksi pembangunan seperti DAM ini. Namun, saya melihat pekerjaan ini sangat aneh, dan terkesan seperti cor coran, tanpa menggunakan besi tulangan. Saya harap, dinas terkait melihat pekerjaan pihak rekanannya ini. Kalau seperti ini pembangunanya, petani yang akan jadi korbannya. Karena, jelas ini tidak ada kekuatannya, dan hasilnya nanti akan berdampak pada area persawahan kami. Lagian juga, membuat bendungan, mbok ya jangan tingi-tinggi, karena dampaknya akan ke sawah yang akan kami tanami ini,” demikian Suryana.

Laporan : CW Star
Editor : Pendi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *